Updated : Sep 13, 2019 in Kesehatan

Apa sih Bahayanya Anemia pada Ibu Hamil?

Wanita hamil adalah bagian dari kelompok yang rentan terhadap malnutrisi karena meningkatnya kebutuhan nutrisi untuk ibu dan janin. Anemia adalah salah satu konsekuensi dari malnutrisi pada wanita hamil. Anemia didefinisikan sebagai suatu kondisi di dalam tubuh yang mengalami kekurangan hemoglobin yang bertindak sebagai pemasok oksigen ke semua jaringan tubuh manusia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat anemia bervariasi dari 20% hingga 89%, dengan 34% pada wanita hamil dan 75% dari peristiwa ini di negara berkembang. Meskipun hasil penelitian 2018 menunjukkan, proporsi anemia di antara wanita hamil di Indonesia adalah 48,9%. Ini berarti bahwa jumlahnya meningkat dibandingkan dengan penelitian pada tahun 2013, yaitu 37,1%. Dalam RISKESDAS pada tahun 2018, persentase tertinggi wanita hamil dengan anemia dapat ditemukan antara 15 dan 24 tahun, 84,6%, 25-34 tahun 33,7%, 35-44 tahun 33,6% dan antara 45 dan 55 tahun 24%. Karena kejadian anemia cukup tinggi, pemerintah harus lebih memperhatikan wanita hamil yang pernah menderita anemia di masa lalu.

Kehamilan disertai dengan anemia disebut “potensi yang dapat membahayakan ibu dan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek anemia yang berhubungan dengan anemia menyebabkan keguguran, bayi prematur, perkembangan janin terhambat, penyakit menular dapat menyerang dengan mudah, perdarahan, pecah dini Membran dan mengurangi ASI Untuk mencegah efek anemia pada ibu hamil dan janin, setiap wanita hamil harus menjalani tes darah untuk mengantisipasi anemia.

Selain mengonsumsi energi, protein, lemak, dan karbohidrat yang cukup, wanita hamil juga harus mengonsumsi zat besi yang cukup. Mengapa? Ini karena kekurangan zat besi adalah penyebab umum anemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria defisiensi besi adalah nilai hemoglobin yang rendah (antara 8,0-9,9 g / dL) dan ferritin <15 μg / L. Besi memainkan peran penting dalam pertumbuhan janin selama kehamilan. Selama kehamilan, terjadi peningkatan volume darah pada ibu. Karena itu, asupan zat besi juga harus ditingkatkan. Untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya, bayi perlu diberi plasenta sebagai penghubung. Dalam proses memenuhi kebutuhan ini, nutrisi dalam bentuk zat besi memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa zat besi dapat membantu mempersingkat proses penyembuhan luka, terutama luka yang terjadi saat persalinan. Beberapa manfaat zat besi di atas menunjukkan betapa pentingnya bagi wanita hamil untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi selama kehamilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *